Friday, August 10, 2012

Pemberdayaan Masyarakat Miskin I




Konsep Kemiskinan
Kemiskinan merupakan salah satu problem sosial yang amat serius di berbagai negara di seluruh belahan dunia. Guna membahas masalah ini perlu dilakukan identifikasi apa yang dimaksud dengan miskin atau kemiskinan secara definitif dan bagaimana cara mengukur tingkat kemiskinan masyarakat dalam suatu negara.
Berdasarkan beberapa literatur yang pernah saya baca, paling tidak ada tiga macam konsep kemiskinan secara umum berdasarkan pandangan secara sosial (Sunyoto Usman, 2004:125-136), yaitu:

a.
Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut biasanya dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang kongkret (afixed yard stick). Ukuran itu lazimnya berorientasi pada “Kebutuhan hidup dasar minimum” anggota masyarakat seperti sandang, pangan dan papan. Masing-masing negara mempunyai batasan kemiskinan absolut yang berbeda-beda sebab kebutuhan hidup dasar masyarakat yang dipergunakan sebagai acuan memang berlainan. Karena ukurannya yang dipakai sudah pasti, konsep ini mengenal garis batas kemiskinan.
Pernah ada gagasan yang ingin memasukkan unsur “kebutuhan dasar kultur” (basic cultural needs) seperti pendidikan, keamanan, kesehatan dan sebagainya disamping kebutuhan fisik. Konsep ini mendapatkan kritik antara lain dikatakan bahwa tidak mungkin membuat satu ukuran untuk semua anggota masyarakat, seperti kebutuhan hidup yang berbeda antara masyarakat kota dengan desa, masyarakat tani dengan nelayan dan lain-lain. Konsep ini sangat populer dalam program-program pengentasan kemiskinan.

b. Kemiskinan Relatif

kemiskinan relatif biasanya dirumuskan berdasarkan “the idea of relative standard”, yaitu dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Dasar asumsinya adalah kemiskinan disuatu daerah berbeda dengan daerah lainnya, dan kemiskinan pada suatu waktu berbeda dengan waktu yang lain. Konsep kemiskinan semacam ini lazimnya diukur berdasarkan pertimbangan (in terms of judgement) anggota masyarakat tertentu dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup.
Konsep ini juga dikritik, terutama karena sangat sulit menentukan bagaimana hidup yang layak itu. Ukuran kelayakan ternyata beragam dan terus berubah-ubah. Layak bagi komunitas tertentu boleh jadi tidak layak bagi komunitas lain, demikian juga layak pada saat sekarang boleh jadi tidak untuk mendatang.

c. Kemiskinan Subyektif

Kemiskinan subyektif biasanya dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin itu sendiri. Konsep ini tidak mengenal a fixed yardstick, dan tidak memperhitungkan the idea of relatives standard.

Kelompok yang menurut ukuran kita berada di bawah garis kemiskinan, boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri miskin atau sebaliknya. Dan kelompok yang dalam perasaan kita tergolong hidup dalam kondisi tidak layak, boleh jadi tidak menganggap seperti itu. Oleh karenanya, konsep ini dianggap lebih tepat apabila dipergunakan untuk memahami kemiskinan dan merumuskan cara atau strategi yang efektif untuk penanggulangannya.

Dimensi Kemiskinan
Sedikitnya ada dua macam perspektif yang lazim dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan, yaitu perspektif kultural (cultural perspective) dan perspektif struktural atau situasional (situational perspective).
Masing-masing perspektif memiliki tekanan, acuan dan metodologi tersendiri, dalam menganalisis kemiskinan. Perspektif kultural mendekati masalah kemiskinan pada tiga tingkat analisis, individu, keluarga dan masyarakat. Pada tingkat individu kemiskinan ditandai dengan sifat yang lazim disebut “a strong feeling of marginality” seperti apatisme, fatalisme atau pasrah pada nasib, boros, tergantung dan inferior.
Pada tingkat keluarga, kemiskinan ditandai dengan jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages. Pada tingkat masyarakat, kemiskinan terutama ditunjukkan oleh tindakan terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif. Mereka seringkali memperoleh perlakuan sebagai obyek yang perlu digarap dari pada sebagai subyek yang perlu diberi peluang untuk berkembang.
Sedangkan menurut perspektif situasional, masalah kemiskinan dilihat sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern. Penetrasi kapital antara lain mengejawantah dalam program-program pembangunan yang dinilai lebih mengutamakan pertumbuhan dan kurang memperhatikan pemerataan hasil pembangunan. Program-program itu antara lain berbentuk intensifikasi, ekstensifikasi dan komersialisasi pertanian untuk menghasilkan pangan sebesar-besarnya guna memenuhi kebutuhan nasional ekspor.
Program-program pembangunan semacam itu memang telah berhasil meningkatkan hasil produksi secara besar-besaran, tetapi ternyata hanya kelompok kaya yang dapat memanfaatkan surplus itu. Hal tersebut disebabkan, pertama berkaitan dengan akumulasi modal. Kelompok kaya memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk mendapatkan aset-aset tambahan yang datang bersama dengan perkembangan teknologi modern. Konsekuensinya, mereka lebih cepat berkembang. Kedua, berkaitan dengan fungsi lembaga. Dalam rangka menunjang introduksi teknologi baru, dibentuk lembaga-lembaga ekonomi. Lembaga-lembaga ini sangat dibutuhkan, karena dengan adanya perubahan teknologi, fungsi produksi, struktur pasar dan preferensi konsumen ikut berubah. Dalam kenyataannya lembaga-lembaga semacam ini tidak dapat memberikan fasilitas secara optimal kepada semua lapisan masyarakat. hanya kelompok kaya yang dapat menikmatinya. Kedua hal tersebut dituduh menciptakan “kolonialisme internal” dalam kehidupan masyarakat.
Program pengentasan kemiskinan sekarang ini berdasarkan konsep kemiskinan absolut yang dicanangkan Bappenas. Namun karena masyarakat desa sudah mengalami perubahan ekonomi, politik dan kultural yang hebat maka kondisinya menjadi semakin kompleks, struktur kekuasaan semakin plural dan nilai-nilai sosial juga mengalami banyak perubahan.
Dalam hal akar kemiskinan berkaitan dengan faktor kultural, perlu strategi yang mampu meningkatkan etos kerja kelompok miskin, meningkatkan pendidikan supaya lebih memiliki pola pikir yang melihat ke masa depan, dan menata kembali institusi ekonomi kita supaya dapat mewadahi kebutuhan serta aspirasi kelompok miskin.
Selanjutnya bila akar masalahnya struktural, strategi pembangunannya perlu dirumuskan kembali. Tidak lagi mementingkan pertumbuhan kembali. Tidak lagi mementingkan pertumbuhan, tetapi harus lebih mementingkan pemerataan kesempatan. Jadi dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa adanya kemiskinan lebih dikarenakan tidak adanya pemerataan yang terjadi dalam suatu daerah.

Thursday, August 9, 2012

Program Penanggulangan Kemiskinan




            ISU penanggulangan kemiskinan saat ini merupakan issu yang hampir setiap saat disuguhkan kepada kita, apalagi setelah menjadi agenda Nasional  dalam bentuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Issu ini menjadi komoditi yang paling santer ditawarkan kalangan yang mencalonkan diri pada posisi birokrasi dan legislatif, utamanya saat-saat menjelang suksesi, sekalipun itu hanya sekedar retorika kampanye tanpa konsep pelaksanaan yang jelas.
Penanggulangan kemiskinan telah banyak diupayakan melalui berbagai pembangunan sektoral maupun regional, tetapi karena dilakukan secara parsial dan tidak berkelanjutan, saat ini hasilnya belum optimal. Bahkan yang menghawatirkan dengan banyaknya program penanggulangan kemiskinan, ketika tidak dilaksanakan dengan metode dan mekanisme penanganan yang tepat, justru akan membuahkan hasil yang berbanding terbalik dengan tujuan program tersebut, yakni  masyarakat akan semakin terjebak pada budaya miskin yang selalu mengharapkan bantuan.
Masyarakat mandiri sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah tidak mungkin diwujudkan secara instant, melainkan melalui serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat yang terencana dan terkoordinasikan dengan baik. Sebab persoalan kemiskinan merupakan persoalan multi dimensi yang mencakup politik, sosial, lingkungan, ekonomi maupun asset. Dalam keseharian dimensi ini dapat dijelaskan dalam berbagai bentuk representasinya.
Dimensi Sosial Politik: mewujud pada tidak dimilikinya wadah kelembagaan masyarakat yang mampuh memperjuangkan aspirasi dan kebutuhan kaum miskin. Hal ini mengakibatkan mereka tersingkir pada proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri. Lebih jauh lagi, segala pekerjaan/usaha yang mereka lakukan tidak punya akses (termasuk informasi) yang memadai keberbagai sumberdaya kunci yang dibutuhkan untuk meningkatkan taraf hidup secara layak.
Dimensi Sosial: muncul dalam bentuk tidak terintegrasikannya masyarakat miskin dalam institusi sosial yang ada. Pun terintegrasikannya budaya kemiskinan yang merusak kualitas dan etos kerja yang mereka jalani.
Dimensi Ekonomi: tampil dalam bentuk rendahnya penghasilan, sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sampai batas yang layak. Dan semuanya berujung pada dimensi asset yang ditandai dengan rendahnya kepemilikan masyarakat miskin keberbagai hal yang mampu menjadi modal hidup mereka, termasuk asset kualitas sumberdaya manusia, peralatan kerja modal dan sebagainya.

Pendekatan pemberdayaan
Pendekatan program penanggulangan kemiskinan terdahulu yang bersifat parsial, sektoral dan cahrity dalam kenyataanya sering mengalami kondisi yang kurang menguntungkan. Misalnya salah sasaran, melemahkan nilai-nilai kapital sosial yang ada (gotong royong, musyawarah, dan keswadayaan). Lemahnya nilai-nilai kapital sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perubahan prilaku yang semakin jauh dari semangat kemandirian, kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalan secara bersama.Pendekatan yang dilakukan selama ini.
Pendekatan kemiskinan seperti di atas telah menyadarkan berbagai pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki, yaitu ke arah perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat yang senantiasa berlandaskan nilai-nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyarakatan, dan pilar pembangunan berkelanjutan.
Perubahan perilaku dan cara pandang masyarakat ini merupakan pondasi yang kokoh bagi terbangunnya lembaga masyarakat yang mandiri, melalui pemberdayaan para pelaku-pelakunya agar mampu bertindak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia luhur yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan program yang harus diperhatikan adalah prinsip-prinsip pengelolaan program pembangunan yang berbasis masyarakat, karena filosofi pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraannya.
Dengan pendekatan ini masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai obyek program tetapi juga sebagai subyek, melalui kegiatan yang dilakukan dari, untuk, dan oleh masyarakat. Sehingga setiap kegiatan yang ada di tingkat masyarakat akan direncanakan, dilaksanakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat sendiri dengan harapan upaya penangulangan kemiskinan dapat berjalan lebih efektif.

Penanggulangan kemiskinan tanggungjawab siapa?
Berbekal kesadaran bahwa masalah kemiskinan merupakan persoalan multi dimensi dan merupakan persoalan yang harus mendapatkan penanganan secara serius dan menjadi tanggungn jawab kita bersama. Sudah selayaknya semua pihak bahu-membahu untuk mengatasinya dan menuju sinergi berbagai pihak untuk ”bersama membangun kemandirian” dalam menanggulangi kemiskinan.
Bersama membangun kemandirian merupakan icon upaya pemberdayaan masyarakat miskin yang mengisyaratkan keharusan membangun sinergi  antara masyarakat, pemerintah dan kelompok peduli dalam pemberdayaan masyarakat miskin.      Karena permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Namun penanganannya selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Peran masyarakat dan dunia usaha belum optimal. Kerelawanan sosial dan kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber penting pemberdayan dan pemecahan akar permasalahan kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu diperlukan perubahan yang bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
Salah satu tujuan PNPM adalah meningkatnya sinergi masyarakat, pemerintah daerah, swasta, asosiasi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok peduli lainnya untuk mengefektifkan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan.
Program yang diluncurkan  30 April 2007 di Kota Palu Sulawesi Tengah ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja melalui konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang ada di berbagai kementerian/kelembagaan.
Melalui Program ini diharapkan terjadi harmonisasi prinsip-prinsip dasar, pendekatan, strategi, serta berbagai mekanisme dan prosedur pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga proses peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Berkaitan dengan upaya mendukung kemitraan sinergis sebagaimana dimaksud maka perlu dilakukan upaya-upaya penguatan peran pemerintah  dan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di tingkat kota/kabupaten dalam penanggulangan kemiskinan sehingga mampu menyusun strategi penanggulangan kemiskinan di wilayah masing-masing.
Melalui kemitraan sinergis ketiga pilar pembangunan lokal (masyarakat, pemerintah, dan kelompok peduli/swasta), diharapkan dapat terbangun proses pelembagaan kerjasama yang baik antara pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha, serta dunia nirlaba lainnya, dalam seluruh proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemeliharaan berbagai program-program serta sumberdaya yang ada yang dimiliki oleh pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia nirlaba lainnya.
Kemitraan sinergis ini akan bermakna jika jalinan kerjasama dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah dan kelompok peduli/swasta tersebut dibangun atas dasar kebutuhan bersama, kepentingan yang sama dan kesetaraan peran dalam melaksanakan kegiatan bersama. Hal ini bisa dimulai dari pembangunan yang direncanakan oleh SKPD yang dipadukan dengan perencanaan dari masyarakat dalam Musrembang supaya menjadi perencanaan pembangunan yang menyeluruh, terpadu, dan selaras sehingga Musrembang menggambarkan mekanisme dan harmonisasi kegiatan berbagai program. Selamat memulai.

Wednesday, August 8, 2012

Paradoks Gugatan Samin Sang Petani



Samin bukan petani sembarangan, lahan yang dikelolanya mencapai 4,5 hektar, dikerjakan bersama-sama dengan 17 rekan kerjanya. Dari luas lahan itu saja sudah bisa membuktikan Samin bukan petani sembarangan karena petani di desanya rata-rata hanya sepersepuluhnya saja. Jenis usaha yang dilakukan Samin menunjukkan kemampuanya sebagai petani.Beberapa petak sawah yang ditanam tidak hanya padi saja tetapi juga palawija, kebun dengan beberapa puluh batang pohon jengkol, pete, melinjo, nangka, dan cengkeh, beberapa puluh batang sengon, belasan kambing, 200 ayam kampung dan 3 kolam ikan; menjadi sebuah “mix farming” yang utuh dan dapat menjadi contoh pola usaha tani di daerah tropis basah. Apalagi menurut pengakuan 17 orang rekan-rekan kerjanya walaupun nyatanya mereka menuruti perintah Samin tetapi tidak merasa menjadi anak buah atau bawahan. Semua sama saja,kelompok tani,rekan-rekan sepengajian;demikian kata mereka. Sungguh merupakan cermin kepemimpinan yang unggul.
 Samin punya pandangan yang maju dan antisipatif. Juga memiliki pengetahuan yang luas, baik terhadap tehnik bertani, tehnik konservasi, hingga pemahaman terhadap pasar, pemerintahan, bahkan politik. Pergaulan dan pengalaman yang luas, beberapa pendidikan dan pelatihan yang diikuti telah memberi wawasan yang luas. Kehidupan Samin cukup berhasil. Anaknya enam orang, tiga dari istri pertama dan tiga dari istri kedua. Dua anaknya sudah lulus SMA, yang satu bekerja di Pemda dan yang satu menjadi Satpam di sebuah toko. Dua anaknya yang lain masih sekolah di SMA, satunya di SMP, satunya di SD. Semua biaya sekolah itu ditanggung dari penghasilan Samin sebagai petani. Berdiskusi dengan Samin akan selalu terasa nuansa kritikal dalam nada bicaranya. Namun kritik itu berbentuk sesuatu yang halus, sangat beragam, beresonansi pada pemilihan kalimat-kalimat yang panjang dan bersayap, bahkan sering terasa sebagai sesuatu yang paradoksal karena kritik yang banyak diberikan kepada dirinya sendiri. Gaya bicara yang diulang-ulang dan sering dengan nada seperti bercerita menjadikan nada itu seperti sebuah refleksi diri. Paradoks juga karena sekuat apa kritik itu diberikan sekuat itu pula Samin menerima dan berbahagia terhadap apa yang dikritiknya. Bahkan paradoks karena juga antara kritik yang satu dengan yang lain sering saling berlawanan
Samin sering mengkritik nasibnya yang tidak bisa menyelesaikan sekolahnya yang hanya diikutinya hingga SMP, itupun tidak lulus. Padahal untuk ukuran desanya pada tahun 1970-an mencapai pendidikan hingga SD saja sudah dipandang tinggi. Alasan ketidak-adaan biaya menjadi penyebab terhambatnya pendidikan Samin. Dalam diskusi, Samin sering mempertanyakan nasib baik yang “selalu” menyertai orang kota yang kaya. Mereka bisa kaya karena pintar, dan setelah kaya bisa membuat anak-anaknya lebih pintar lagi, demikian logika Samin. Logika seperti itulah yang sering dipakai Samin untuk menjelaskan mengapa petani selalu miskin dari generasi ke generasi. Petani yang miskin tidak bisa membuat anaknya menjadi pintar sehingga  terpaksa menjadi petani miskin lagi sebagai satu-satunya alternatif yang mungkin bagi “anak petani miskin yang tidak sekolah”.
Di sisi lain, Samin acap kali juga mengatakan bahwa dia merasa beruntung karena tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Tidak bersekolah menyebabkan Samin mempunyai banyak waktu untuk mengikuti kakeknya yang menurutnya adalah guru yang paling utama dalam memahami “Filosofi” dan tehnik bertani. Melalui kakeknya Samin menjadi sadar akan arti pertanian bagi kehidupan, tidak hanya bagi kehidupanya tetapi juga kehidupan umat manusia. Jika diungkapkan dalam satu kalimat pendek, pemahaman Samin dan Kakeknya mengenai pertanian dapat dirumuskan bahwa pertanian adalah “hatinya kehidupan”, tanpa pertanian mungkin masih akan ada yang hidup tapi jelas tidak akan ada kehidupan.
Melalui kerja keras di pertanian Samin dapat menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan nyaris seperti dengan semangat “balas dendam” karena masih teringat jelas akan kesempatan yang “hilang’ baginya dulu.Samin dengan penuh antusias menceritakan prestasi anak-anaknya di sekolah. Namun pada saat yang sama, Samin juga memberikan kritik dan mempertanyakan mengapa sekolah yang ada di daerah tidak mengajarkan mengenai pertanian atau hal-hal yang terkait dengan pertanian. Bahkan pendidikan sekolah itu tidak menumbuhkan minat anak-anak desa untuk bertani. Paradoks Samin kembali mengemuka, Samin menyekolahkan anak-anaknya dengan semangat, tetapi mengkritik sekolah yang akhirnya membuat anak-anak Samin tidak berminat menjadi petani. Walaupun demikian Samin tetap merasa bahagia bisa menyakolahkan anaknya dan merasa senang karena anaknya bisa terhindar dari “jebakan kemiskinan” pertanian masa depan.
Berbicara masa depan, Samin melihat bahwa yang dibutuhkan adalah petani-petani “professional” yang mampu hidup sejahtera dari pertanian. Dengan alasan itulah Samin tidak berniat untuk memiliki lahan yang luas, lahan yang dimiliki Samin hanya 1000 meter persegi disekitar rumahnya.Lahan yang dikelolanya merupakan lahan yang disewa dari mereka yang menganggap Samin adalah petani professional. Dan lagi-lagi Samin mengkritisi tentang kebijakan  pertanahan yang tidak melindungi lahan-lahan pertanian, juga lahan-lahan yang juga menjadi bagian kawasan lindung dan konservasi. Kritik mengenai “tidak adanya perlindungan” juga dikemukakan Samin menyangkut ketersediaan pupuk, bibit unggul, air irigasi, kredit pertanian, serta maraknya buah-buahan asing yang masuk hingga ke pasar desa dan nasib para penyuluh. Namun pada kesempatan lain Samin juga mengucapkan syukur dengan tidak adanya “perlindungan” tersebut menurut Samin akan mendorong tumbuhnya para petani professional yang tidak lagi tergantung pada pemerintah.
 Paradoks gugatan Samin yaitu antara kritik dan syukur, antara melihat sesuatu sebagai kekurangan sekaligus sebagai kelebihan, justru harus dilihat sebagai koridor dimana teknologi dapat dikembangkan dan kebijakan dapat direkomendasikan. Paradoks itu mengingatkan tidak adanya posisi ekstrim dalam menghadapi permasalahan pertanian di Indonesia. Pertanian Indonesia tidak dapat dilihat sebagai aktifitas ekonomi, tetapi juga menyangkut sistem nilai sosial budaya. Pertanian juga tidak bisa hanya didekati sebagai proses produksi komoditi yang akan diperdagangkan di pasar, dimana sering dianggap bahwa harga dapat menyelesaikan semua permasalahan dalam pertanian Indonesia. Pertanian menyangkut ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, pengurangan kemiskinan dan kontribusinya terhadap perekonomian secara menyeluruh. Namun yang terpenting adalah pertanian menyangkut kehidupan petani dan masyarakatnya.
     

Tuesday, August 7, 2012

Kondisi Sosial Budaya Indonesia


Ketika seorang siswa SMA baru saja lulus dari sekolahnya, tentulah yang menjadi tujuan berikutnya adalah kuliah. Entah itu di perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Dengan melalui PMDK, SPMB ataupun cara-cara tak halal yang sudah menjadi rahasia umum sekarang. Nampaknya keinginan untuk kuliah begitu besar bagi lulusan SMA. Seolah-olah ketika seseorang telah duduk di bangku kuliah, masa depannya akan terjamin. Padahal dunia nyata tidak seperti itu

Setiap tahun, ribuan mahasiswa diluluskan oleh kampus mereka masing-masing. Mengisi lowongan yang masih sedikit tersisa untuk mereka. Tentu saja persaingannya sangat ketat. Dengan ijazah dan beberapa tes, mereka bisa saja lulus seleksi dan bekerja, menjadi karyawan. Pergi di saat pagi hari, atau bahkan lebih pagi lagi biar terhindar dari kemacetan, jam 8 tepat harus sudah dikantor. Kemudian istirahat makan siang jam 12, trus disambung lagi kerja sampai jam 4 atau 5 sore. Pulang ke rumah dan harus berpapasan dengan kemacetan lagi untuk kedua kalinya di hari itu. Sampai dirumah, mandi dan makan malam. Kemudian tidur, karena badan sudah lelah. Besok, pagi-pagi sekali harus sudah bangun. Begitu seterusnya.

Ya, kebanyakan sekolah mengajarkan kepada kita agar berpikir seperti ini : ?Sekolah lah yang rajin, biar pintar, dapat nilai tinggi, terus kuliah yang bener, dan jadilah karyawan baik sehingga cepat naik pangkat?. Pemikiran seperti inilah yang membuat 12,6 juta jiwa orang menganggur. Kita jarang diajarkan untuk membangun bisnis kita sendiri. Dan untuk membangun bisnis kita sendiri tidak lah dibutuhkan selembar ijazah pun. Yang dibutuhkan hanya keberanian.

Kebanyakan tujuan seseorang untuk kuliah adalah agar mendapatkan pekerjaan yang layak setelah lulus kuliah nanti. Dan menurut mereka, pekerjaan yang layak hanya akan di dapatkan jika mereka bisa mempunyai selembar ijazah dengan nilai yang tinggi. Mereka takut jika nilai mereka buruk maka masa depan mereka akan ikut memburuk juga. Karena itu, mereka berusaha semampu mereka untuk tidak mendapatkan nilai yang buruk. Apapun caranya. Entah itu dengan belajar lebih giat atau dengan tindakan tak terpuji. Mencontek, meminta tolong teman untuk mengerjakan tugas, mengcopy artikel langsung dari internet tanpa mengolahnya dulu, titip absen, bekerja sama saat ujian, adalah hal-hal yang saya golongkan dalam perbuatan tak terpuji.Secara tidak langsung, sekolah atau kampus mengajarkan kepada kita hal-hal tercela di atas. Ini tidak lain dikarenakan pengukuran kemampuan seseorang adalah melalui nilainya. Seidealis apapun sekolah atau kampus, nilai tetap menjadi rajanya. Tidak mau tahu anak itu punya kecerdasan di bidang lain. Kalau saja nilai keseluruhannya buruk, maka buruklah ia.

Inilah yang saya rasakan ketika sudah menjadi mahasiswa yang baru menginjak semester 3 ini. Meskipun hal-hal diatas tidak lepas dari iklim di setiap kampus masing-masing, dan dikampus saya tercinta ini sangatlah jamak terjadi juga tidak bisa di pungkiri sayapun pernah melakukan beberapa hal yang seperti itu. Tetapi bukan berarti saya lantas sepakat dengan adanya permasalahan seperti itu, namun semua itu  adalah suatu proses terhadap diri saya. Bagaimana saya bisa beradaptasi, bisa mempunyai interaksi yang baik terhadap semua kalangan serta yang paling utama adalah bagaimana saya bisa menemukan siapa jati diri saya sebenarnya!!!

Ilmu praktis seperti yang satu tahun ini saya pelajari di bangku perkuliahan merupakan suatu pilihan yang dating karena ketertarikan yang begitu besar sejak SMA, karena saya menganggap pelajaran Matematika lebih bisa dinikmati dari pada yang lainnya. Perasan yang nyaman dalam melakukan proses mencari jati diri akan lebih indah dan mengakar dalam landasan pemikiran.

Tujuan sebagai manusia Indonesia mempelajari mata kuliah Ilmu sosial budaya.
Saya melihat nampaknya tidak mudah bagi masyarakat Indonesia untuk menerima kenyataan akan terjadinya perkembangan dan pembaharuan dalam kehidupan sosial budaya mereka. Orang belum menyadari adanya keterkaitan langsung antara perkembangan ilmu dan teknologi dengan sistem sosial budaya yang berlaku. Kalau ada perubahan sikap dan pola tingkah laku sementara masyarakat, semuanya itu dianggap sebagai tanda-tanda terjadinya erosi kebudayaan, kalau tidak dikatakan menyimpang. sikap ini merupakan penghabat utama dalam pengambilan ilmu seni dan teknologi di Indonesia.

Mengingat kita pada umumnya sebagai orang Indonesia dan sacara khusus adalah mahasiswa yang bearkar budaya masyarakat dan berfungsi sebagai pembangun budaya masyarakat. Kita harus mampu memiliki kemampuan sebagai pelopor, pembentuk citra, mengilhami pemikiran dan memiliki taidiri, maka dalam membentuk penampilannya yang ramah (friendly), kita berusaha mengahayati kebutuhan dan aspirasi sesame manusia Indonesia dalam pembangunan.

Agar hubungan Masyarakat untuk mengkomunikasikan informasi mengenai persoalan-persoalan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kemajuan teknologi. Hubungan Masyarakat berperan penting dalam memenuhi permintaan yang semakin meningkat akan ilmu pengetahuan. Dewasa ini Hubungan Masyarakat merupakan suatu fenomena. Maknanya dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial. budaya kita belum dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat. atau dalam banyak hal, oleh manajemen. Dalam keanekaragaman penjelasan mengenai Humas sebagai kegiatan yang tidak nampak, rekayasa kesepakatan, dan pencerminan citra suatu organisasi. Mengingat kita  mahasiswa yang mempunyai kepedulian yang tinggi maka harus mempunyai sifat ganda yaitu sebagai agen pembaharuan dan pelestarian nilai-nilai budaya bangsa, menjadi sangat agen pembaharuan dan pelestarian nilai-nilai budaya bangsa.

Mengingat sikap dan kondisi masyarakat di sekitarnya yang belum sepenuhnya memahami kaitan perkembangan dan pembaharuan yang terjadi akibat pesatnya kemajuan ilmu dan teknologi. Sebegitu jauh hanya sebagaian keil masyarakat yang menyadari akan adanya perkembangan dan akibatnya, itulah mereka yang dapat menikmati kesemapatan yang tersedia. Mengingat hal tersebut diatas, diperlukan mekanisme pembelajaran mata kuliah Ilmu sosial budaya di dunia perkuliahan yang dapat membantu perkembangan ilmu pegetahuan dan teknologi tanpa harus merusak keseimbangan sosial budaya yang dinamis.

Thursday, November 10, 2011

Mengapa Belajar Ngeblog




Selamat beraktivitas para blogger sekalian

Wah, sudah lama saya tidak memposting sesuatu tentang apa yang terjadi dengan kehidupan saya beserta rutinitas saya sehari hari. Kali ini saya akan menceritakan tentang suatu kisah yang merupakan pengalaman hidup saya di duni maya ini. Saya kurang tahu mengapa saya bisa mencintai internet dan juga ingin lebih dekat dengan internet. Apalagi pada saat ini internet merupakan sarana yang paling dibutuhkan oleh masyarakat daripada kendaraan atau sarana transportasi.

Internet memanglah sebuah kebutuhan tersier yang sekarang menjadi kebutuhan primer bagi hampir semua masyarakat modern. Dengan internet masyarakat modern merasa terbantu dalam kehidupan sehari hari. Mulai sebagai sarana komunikasi sosial, sarana pengetahuan, sarana pemberitahuan tentang kabar dan perkembangan segala aspek yang ada di dunia bahkan hanya sebagai sarana untuk menulis.

Di internet memang banyak sarana yang bisa digunakan sebagai lahan untuk menulis. Baik itu berupa blog, website atau bahkan sosial media yang mulai ngetrend pada beberapa tahun terakhir ini. Untuk blog, ada dua jasa penyedia blog gratis yang paling digandrungi oleh para blogger (pemilik blog) di seluruh dunia. Kedua penyedia jasa tersebut adalah blogger atau lebih sering disebut blogspot dan juga wordpress yang lebih dikenal dengan nama singkatannya WP.

Kedua penyedia jasa blog gratis tersebut memiliki beberapa perbedaan yang jelas. Tetapi dari segi kenyamanan penggunaan, style pada blogspot lebih disukai oleh para blogger pemula karena lebih ringkas dan juga lebih mudah dipahami. Tetapi bukan berarti style pada wordpress kurang baik, style pada wordpress sebenarnya juga mudah dipahami, tetapi wordpress lebih cenderung kepada stylish eksekutif daripada stylish yang netral seperti blogspot. Jadi banyak orang lebih memilih blogspot karena faktor kemudahan.

Saya sendiri juga merupakan salah satu pengguna jasa blogspot. Di sini saya belajar untuk menulis artikel, memahami makna artikel bahkan sampai dengan menilai isi dari suatu artikel. Dengan blogspot saya belajar berkomunikasi lewat tulisan kepada semua pengguna internet. Selain itu dengan blogspot juga saya belajar melakukan bahasa CSS dalam form edit template dengan html.

Mengapa saya belajar ngeblog???

Wah, sebenarnya tidak ada alas an serius pada diri saya untuk belajar ngeblog. Pada awalnya saya hanya ingin mencoba untuk ngeblog. Dari sana saya mengerti betapa indahnya memasuki dunia blogging. Disini kita bisa bebas membuat artikel dan menyampaikannya pada semua orang. Disini juga kita bisa menyampaikan isi hati kita (sebagai diary kedua) bila kita mendapatkan beberapa masalah. Selain itu disini juga kita belajar memaknai suatu kejadian yang terjadi pada diri kita kemudian menyampaikannya lewat tulisan.
Alasan di atas mungkin merupakan alas an yang konyol. Tapi hal itulah yang embuat saya melakukan blogging. Terus terang saja, semakin banyak kita melakukan blogging, maka akan semakin banyak pula yang kita dapatkan. Hal ini mungkin di luar nalar atau kebiasaan yang terjadi di sekitar kita, namun dengan blog kita juga akan saling berteman dengan pemilik blog alias blogger lain. Di beberapa jejaring sosial juga terdapat beberapa id komunitas blogger pada suatu daerah, dimana disitu kita bisa bertukar pikiran bahkan disitu kita juga bisa mendapatkan apa yang kita perlukan untuk membantu mengatasi masalah masalah yang kita hadapi.

Apakah ngeblog itu suatu yang asyik???

Saya tidak mau menjawab pertanyaan tersebut. Setiap orang memiliki memiliki pendapat yang berbeda mengenai blog. Bagi seseorang yang menyukai bidang tulis menulis alias bahasa, blog bisa menjadi salah satu favorit. Tetapi bagi orang yang tidak menyukai bahasa atau orang tersebut tidak bersifat linguistic, maka blog juga bisa menjadi favorit apabila kita mengisinya dengan sesuatu yang menjadi kesukaan kita. Misalnya adalah dengan mengisi blog fakta fakta logika ataupun dengan seni yang artistik.

Dalam membuat blog, ada salah satu syarat yang dipenuhi agar kita bisa tetap konsisten untuk menulis dalam blog. Salah satunya adalah dengan mengisi blog kita dengan konten yang kita sukai dan kita ketahui. Bila kita menyukai sesuatu hal yang bersifat olahraga, tentunya kita akan mengisi dengan berita berita atau artikel tentang olahraga bukan dengan artikel tentang memasak. Hal ini memang biasa saja, tetapi factor ini benar benar berpengaruh terhadap konsistensi blogger untuk merawat blognya.

Saya memiliki beberapa saran untuk Anda yang ingin bisa bertahan lama di dunia blogger. Beberapa cara yang biasa dilakukan adalah bergabung dengan komunitas blogger yang kita kenal atau yang dekat dengan kita. Cara ini adalah sesuatu yang efektif bagi anda para blogger pemula yang bingung harus bagaimana nanti dalam melakukan blogging. Dengan kita memasuki komunitas blogger, secara otomatis kita juga harus pandai bersosialisasi dengan penghuni komunitas tersebut. Kita jangan hanya diam, tapi dsana kita juga harus saling berbagi pengalaman dan bercerita tentang bagaimana kondisi blog masing masing. Sehingga apabila ada suatu permasalahan anggota komunitas tersebut bisa membantu Anda dalam mengatasinya.

Cara yang kedua agar Anda betah dalam melakukan blogging adalah dengan anda rajin blogwalking. Yang dinamakan blogwalking adalah melakukan suatu kunjungan kepada blog teman kita kemudian kita memberikan komentar yang baik pada artikel tersebut dan memberikan link untuk pemilik blog tersebut agar mengunjungi blog kita. Cara ini mungkin tidak mudah, dengan cara ini kita bisa melihat betapa variasinya blog blog yang dimiliki oleh teman kita. Selain itu, barangkali ada tampilan yang unik dan baru pada blog teman kita, tentu saja hal itu bisa kita share kemudian kita juga minta tolong bagaimana cara membuat blog bisa seperti itu.

Demikian artikel saya, semoga bermanfaat.